Gempita suara suporter di pinggir lapangan bola voli Pingkuk, Jatiroto akhirnya mencapai titik kulminasinya pada Jumat (5/6/2026). Turnamen Bola Voli Antar SD se-Kabupaten Wonogiri bertajuk “Satria Muda Piala Camat Jatiroto” resmi ditutup dengan melahirkan satu raja baru di sektor putra, SDN 2 Geneng, Tirtomoyo. Tim kuda hitam ini tak sekadar menang, namun menorehkan rekor sapu bersih yang membuat decak kagum seluruh pasang mata pencinta voli di Jatiroto. Sejak digulirkan pada Rabu (3/6/2026) yang diawali dengan kemeriahan pertandingan sektor putri, turnamen bergengsi ini memang sudah menebarkan aroma persaingan yang sangat ketat. Dari hari pertama hingga hari pamungkas, ratusan penonton disuguhi aksi-aksi heroik dari para pevoli cilik potensial. Sungguh luar biasa melihat bagaimana anak-anak usia Sekolah Dasar di Wonogiri ini mampu memamerkan teknik dasar yang mumpuni, mulai dari receive yang lengket, setting bola yang akurat, hingga smash tajam membelah pertahanan blok lawan.

Namun, jika ada satu tim yang layak mendapat standing ovation pada kejuaraan edisi tahun ini, tentu saja itu adalah skuad SDN 2 Geneng. Perjalanan tim asal Tirtomoyo ini menuju tangga juara sama sekali tidak dilalui di atas karpet merah. Mereka harus memulai perjuangan menguras keringat dari fase play-off, sebuah jalan terjal yang kerap kali membebani mental sebelum turnamen benar-benar memanas. Pada laga pembuka di fase play-off, SDN 2 Geneng harus berhadapan dengan SDN 1 Kembang. Tampil trengginas dan tanpa beban, mereka sukses membungkam perlawanan lawan dengan skor mutlak 2-0. Kemenangan ini ternyata menjadi katalisator bagi performa gemilang mereka selanjutnya.
Momen pembuktian mental juara sesungguhnya terjadi di fase penyisihan saat mereka harus meladeni sang tuan rumah sekaligus kandidat terkuat juara turnamen ini, SDN 1 Pingkuk. Atmosfer riuh suporter tuan rumah nyatanya tak membuat nyali anak-anak Geneng ciut. Secara dramatis namun meyakinkan, mereka berhasil melibas SDN 1 Pingkuk dua set langsung, 2-0. Kemenangan prestisius inilah yang melambungkan motivasi dan kepercayaan diri skuad SDN 2 Geneng hingga menyentuh titik maksimal. Memasuki babak perempatfinal, laju SDN 2 Geneng semakin tak terbendung. SDN 1 Mojopuro yang mencoba menjegal harus rela angkat koper setelah dihempaskan dengan skor 2-0. Ketangguhan mental dan konsistensi pola permainan kembali dipertontonkan di babak semifinal. Berhadapan dengan SDN 1 Brenggolo, anak-anak Tirtomoyo mendikte jalannya laga dan mengunci tiket ke final dengan kemenangan meyakinkan 2-0.
Puncak dari segala ketegangan terjadi pada hari Jumat (5/6/2026). Partai final mempertemukan SDN 2 Geneng dengan penantang tangguh, SDN 2 Pengkol. Laga berjalan dengan tensi tinggi. Namun, kolektivitas permainan serta pertahanan sekuat karang yang digalang anak-anak Geneng membuat serangan lawan selalu menemui kebuntuan. Putra dan Tito serta official SDN 2 Pengkol dibuat frustasi oleh keuletan anak-anak SDN 2 Geneng. Akhirnya, SDN 2 Geneng menyudahi perlawanan SDN 2 Pengkol dengan skor 2-0, sekaligus menyegel gelar Juara 1 Kategori Putra!
Pesta kemenangan SDN 2 Geneng terasa semakin sempurna. Salah satu motor serangan andalan mereka, Alfan Yoga Kusuma, didapuk sebagai Pemain Terbaik (Best Player). Kelincahan, visi bermain, dan pukulan-pukulan mematikannya menjadi faktor pembeda di sepanjang turnamen. Ditemui usai seremoni penyerahan piala, Kepala SDN 2 Geneng, Wiwik Hartanti, tak mampu menyembunyikan rasa haru sekaligus bangganya atas pencapaian fantastis para siswa didikannya.
“Ini adalah buah dari kedisiplinan, kerja keras tak kenal lelah, dan pantang menyerah dari anak-anak, serta dukungan luar biasa dari pelatih dan orang tua,” tegas Wiwik Hartanti dengan penuh rasa syukur. “Perjalanan kami sangat tidak mudah. Memulai dari babak play-off dan langsung bertemu tuan rumah di penyisihan sempat membuat kami tegang. Namun, anak-anak membuktikan bahwa mentalitas juara itu benar-benar mengakar di dada mereka. Gelar juara dan penghargaan Pemain Terbaik untuk Alfan adalah bonus indah dari dedikasi mereka. Saya berharap prestasi ini tidak membuat anak-anak cepat berpuas diri, melainkan menjadi batu loncatan untuk terus giat berlatih demi membawa nama baik sekolah di level yang lebih tinggi lagi”, tutup Wiwik. RSy









