Hujan yang mengguyur sejak pagi sempat menjadi kendala dalam pelaksanaan pementasan ketoprak di SMP Negeri 4 Pracimantoro. Namun, kondisi ini tidak menyurutkan semangat siswa untuk tetap tampil maksimal dalam rangka Ujian Praktik Seni Budaya.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (14/2/2026) ini tetap berlangsung dengan lancar setelah hujan reda. Halaman sekolah berubah menjadi panggung budaya yang penuh semangat, diiringi tepuk tangan dan antusiasme para penonton.
Dalam pementasan ini, disajikan lakon “Suminten Edan” dan “Ninggal Katresnan”. Kedua cerita ini sarat dengan pesan moral tentang kehidupan, pengorbanan, serta nilai-nilai kebijaksanaan dalam budaya Jawa.
Siswa tampil penuh totalitas setelah menjalani latihan intensif selama beberapa pekan. Setiap dialog dan adegan dibawakan dengan penghayatan yang matang, sehingga mampu menghidupkan karakter dalam cerita.

Menambah semarak suasana, pertunjukan tersebut juga diiringi secara langsung oleh tim karawitan sekolah yang menghadirkan alunan gamelan. Harmoni tabuhan kendang, saron, dan gong semakin menguatkan nuansa tradisional dalam setiap adegan. Tim karawitan ini dilatih oleh Mujoko didampingi oleh Alfian Nur R.A. yang juga merupakan guru Seni Budaya sekaligus pembimbing latihan ketoprak.
Kepala SMP Negeri 4 Pracimantoro, Ankai Wahyuni T.H., menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada penilaian akademik, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter siswa.
Menurut Ankai, kegiatan ini bukan sekadar ujian praktik.
“Melalui pementasan ketoprak, siswa belajar meningkatkan rasa percaya diri, menumbuhkan tanggung jawab, serta memperkuat kerja sama dalam tim,” ujarnya saat memberikan sambutan.
Penampilan yang penuh ekspresi, dipadu iringan karawitan yang kompak, berhasil memukau penonton. Seorang siswa kelas VIII yang menyaksikan pertunjukan tersebut mengaku terhibur dan termotivasi.
“Ceritanya menarik dan penuh pesan. Sangat bagus, ” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, SMP Negeri 4 Pracimantoro berharap seni budaya tradisional seperti ketoprak dan karawitan tetap lestari serta mampu menjadi media pendidikan karakter bagi generasi muda.









