Genta Mahakarya: Ketika Musik, Nusantara, dan AI Bertemu dalam “Sabda Nusantara”

- Penulis

Senin, 31 Agustus 2026 - 20:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dari sebuah daerah yang selama ini dikenal memiliki kekayaan budaya dan kreativitas masyarakatnya, kembali muncul warna baru dalam dunia musik. Kali ini, sebuah grup musik pendatang baru asal Wonogiri bernama Genta Mahakarya mencoba menawarkan sesuatu yang tidak biasa, musik yang mempertemukan nasionalisme, spiritualitas Nusantara, teknologi, dan eksperimen lintas genre dalam satu karya.

Pada 31 Agustus 2026, Genta Mahakarya resmi meluncurkan video klip perdana mereka, “Sabda Nusantara”, melalui kanal YouTube Genta Mahakarya. Lagu tersebut membawa sebuah gagasan besar tentang harapan akan kebangkitan Indonesia, sebuah kebangkitan yang terinspirasi dari kejayaan Nusantara pada masa lalu. Kehadiran Genta Mahakarya sekaligus menambah daftar warna dalam ekosistem musik Wonogiri. Sebelumnya, daerah ini telah melahirkan berbagai grup musik dengan karakter masing-masing, seperti SukirGenk, Sisi Selatan, OM PNS, Wanadwika, Cody and The Real Life, dan Simpro. Kini, Genta Mahakarya datang dengan karakter musikal yang berbeda. Bukan sekadar lagu pop biasa. Bukan pula sekadar musik rock.

Genta Mahakarya justru mencoba meramu berbagai elemen musik menjadi satu kesatuan yang mereka sebut sebagai eksperimen untuk menemukan “musik Indonesia versi mereka.” Genta Mahakarya merupakan duo suami istri, Fajar Prihattanto dan Desi Wulandari. Dalam proses kreatifnya, Fajar memegang berbagai peran sekaligus, mulai dari pencipta lirik dan lagu, aransemen, kamera, hingga editor. Sementara Desi Wulandari menjadi vokalis. Eksperimen musikal mereka terdengar jelas dalam “Sabda Nusantara”. Lagu ini menggabungkan berbagai gaya bermusik, mulai dari progresif, orkestra, elektronik, pop, hard rock, hingga musik tradisional Jawa. Kemegahan musik bahkan sudah terasa sejak bagian intro. Setelah itu, pendengar diajak berpindah-pindah suasana, gagah, lembut, enerjik, hingga kembali menjadi sangat lembut. Pergantian karakter tersebut membuat lagu terasa dinamis dan tidak mudah ditebak.

Baca Juga :  Seleksi PPPK Wonogiri Dibuka, Inilah Ketentuannya

Menariknya, perjalanan musikal itu ditutup dengan Macapat Pangkur, yang menghadirkan nuansa Jawa begitu kuat sekaligus memberikan sentuhan spiritual pada bagian akhir lagu. Macapat Pangkur ini juga didukung oleh Manggala Prakosa yang bermain pada iringan keyboard. Nada-nada yang digunakan adalah nada diatonis khas Jawa, sementara liriknya menggunakan Bahasa Indonesia. Perpaduan tersebut menjadi salah satu identitas yang coba dibangun Genta Mahakarya: membicarakan Indonesia dengan bahasa musik yang berakar pada Nusantara, tetapi tetap terbuka terhadap perkembangan zaman.

Fajar Prihattanto mengungkapkan bahwa “Sabda Nusantara” bukanlah karya yang lahir dalam waktu singkat. Lagu tersebut merupakan hasil eksperimen panjang untuk menemukan karakter musik Indonesia menurut perspektifnya. Dalam proses penciptaannya, Fajar menyerap inspirasi dari berbagai spektrum musik. Ia menyebut pengaruh musik berat dan kompleks seperti Dream Theater, Guruh Gipsy, System of a Down, dan Queen. Namun, inspirasinya tidak berhenti di sana. Fajar juga menyukai lagu-lagu yang lebih manis dan dekat dengan karakter pop, seperti karya-karya Soneta, Soegi Bornean, Tigapagi, serta berbagai lagu Jawa. Berbagai referensi yang secara karakter sebenarnya cukup berjauhan itu kemudian dicoba diramu menjadi satu. Hasilnya adalah sebuah karya yang terdengar megah, eksperimental, sekaligus berusaha mempertahankan jejak identitas Nusantara.

Ada satu hal lain yang membuat Genta Mahakarya berbeda dari banyak grup musik pendatang baru lainnya. Mereka tidak malu mengakui bahwa proses penciptaan karya mereka mendapatkan bantuan Artificial Intelligence (AI). Bagi Genta Mahakarya, AI hanyalah sebuah alat. Fajar memandang AI sebagaimana manusia menggunakan komputer, keyboard, maupun telepon genggam dalam berkarya. Menurutnya, selama teknologi digunakan secara proporsional dan manusia tetap memegang kendali kreatif, sebuah karya tetap dapat memiliki rasa dan sentuhan manusiawi. Proses “Sabda Nusantara” sendiri bermula dari aransemen menggunakan gitar akustik. Dari sana, Fajar melanjutkan proses produksi melalui aplikasi Walkband di telepon genggam. Namun, hasil awal tersebut ternyata belum memuaskan. Fajar kemudian memilih menggunakan Suno AI untuk memperhalus setiap track. Setelah proses tersebut, sentuhan manusia kembali diberikan melalui penambahan gitar elektrik dan vokal. Tahap terakhir dilakukan dengan proses mixing menggunakan Adobe Audition. Dengan demikian, “Sabda Nusantara” menjadi sebuah karya yang berada di persimpangan antara kreativitas manusia dan perkembangan teknologi. Genta Mahakarya tidak berusaha menyembunyikan proses tersebut. Justru sebaliknya, mereka menjadikannya bagian dari cerita perjalanan musik mereka.

Baca Juga :  Karya dari Pelosok Karangtengah pada Hari Guru Nasional 2025

Di balik kemegahan aransemen “Sabda Nusantara”, terdapat sebuah proses produksi yang sangat sederhana. Hampir seluruh proses pengerjaan dilakukan sendiri oleh Fajar dan Desi. Mulai dari menciptakan lagu, menyusun aransemen, merekam, mengambil gambar, mengedit video, hingga melakukan mixing. Keterbatasan tersebut pun mereka akui secara terbuka. “Hampir semua kami kerjakan sendiri, sehingga mohon dimaklumi jika hasilnya masih kurang jernih, amatir, kurang profesional.” Pernyataan itu justru memperlihatkan sisi lain dari Genta Mahakarya. Mereka tidak sedang mengklaim sebagai sebuah produksi musik dengan perangkat serba mahal dan fasilitas profesional. Mereka sedang mencoba membuktikan bahwa gagasan besar bisa dimulai dari peralatan yang sederhana. “Sabda Nusantara” pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah lagu. Ia adalah percobaan tentang bagaimana musik tradisional Jawa dapat bertemu dengan rock progresif, orkestra, elektronik, dan pop. Tentang bagaimana semangat nasionalisme dapat diterjemahkan ke dalam bunyi-bunyian modern. Dan, yang tak kalah menarik, tentang bagaimana manusia dan AI dapat ditempatkan dalam satu ruang kreatif tanpa harus saling meniadakan. Dari Wonogiri, Genta Mahakarya kini membuka babak pertamanya.

Tautan YouTube: https://youtu.be/kTz3AY1k_QI?si=lq1-TgI91ha14d4n

Berita Terkait

Dongkrak Numerasi, SMPN 1 Ngadirojo Luncurkan Inovasi Si Jago Nalar
BKS Guno Juara Sekijang Cup XII Setelah Menang Dramatis atas RSM Poncol
BKS Guno Comeback, RSM Poncol Lengkapi Final Sekijang Cup XII
BKS Guno dan RSM Poncol Tembus Semifinal, Sekijang Cup XII Makin Membara
Dua Wakil Jatiroto Tumbang Bersamaan, Drama Lima Set Warnai Perempat Final Sekijang Cup XII
Drama Lima Set Warnai Malam Keempat Sekijang Cup XII, Satria Muda Sembukan Tumbangkan Asvoja Jatirejo
BKS Guno dan Cikal Anom Dawungan Tancap Gas, Melaju ke Babak Berikutnya di Sekijang Cup XII
Malam Kedua Sekijang Cup XII Makin Membara, Andi Terapy dan Satria Muda Tampil Perkasa
Berita ini 156 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 17:15

Dongkrak Numerasi, SMPN 1 Ngadirojo Luncurkan Inovasi Si Jago Nalar

Minggu, 13 September 2026 - 19:27

BKS Guno Juara Sekijang Cup XII Setelah Menang Dramatis atas RSM Poncol

Sabtu, 12 September 2026 - 08:02

BKS Guno Comeback, RSM Poncol Lengkapi Final Sekijang Cup XII

Jumat, 11 September 2026 - 08:51

BKS Guno dan RSM Poncol Tembus Semifinal, Sekijang Cup XII Makin Membara

Kamis, 10 September 2026 - 07:32

Dua Wakil Jatiroto Tumbang Bersamaan, Drama Lima Set Warnai Perempat Final Sekijang Cup XII

Berita Terbaru