SMP Negeri 1 Ngadirojo terus berinovasi. Kali ini, numerasi menjadi bidang garap inovasi Sekolah Adiwiyata Mandiri ini. Guna meningkatkan kemampuan numerasi, SMPN 1 Ngadirojo meluncurkan Si Jago Nalar (Inovasi Jelajah Angka & Gerakan Optimalisasi Numerasi, Aktif, Logis, Adaptif, dan Reflektif).
Inovator SI Jago Nalar SMPN 1 Ngadirojo, Lusita Indriaswati, menyatakan inovasi diluncurkan untuk menjawab tantangan permasalahan mendasar di sekolahnya. Menurut Lusita, Rapor Pendidikan SMPN 1 Ngadirojo tahun 2025 menunjukkan kemampuan numerasi mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2024.
“Kemampuan numerasi tahun 2025 adalah 93,33% sedangkan tahun 2024 sebesar 97,78%, artinya mengalami penurunan 4,45%,” terang Lusita.

Berdasarkan data tersebut, Lusita menganggap masih diperlukan upaya dari sekolah untuk meningkatkan kemampuan numerasi peserta didik, sehingga hasilnya dapat meningkat. Lusita juga beranggapan, perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial menyebabkan murid tidak cukup hanya mampu melakukan operasi hitung.
“Mereka perlu mampu memahami informasi, mengevaluasi hasil, mengenali pola, membaca data, membuat keputusan, dan menjelaskan alasan dari suatu keputusan, sehingga penguatan numerasi dikembangkan sebagai kemampuan bernalar yang membuat murid tidak sekadar memperoleh jawaban, tetapi mampu mempertanggungjawabkan proses dan keputusan,” imbuh Lusita.
Kepala SMPN 1 Ngadirojo, Agus Dwianto, menambahkan bahwa numerasi tidak semata-mata menjadi tugas guru Matematika. Menurut Agus, semua guru harus turut berperan dalan penguatan numerasi.
“Kemampuan membaca tabel dalam IPA, memahami skala dalam IPS, mengolah data dalam Bahasa Indonesia, membaca ukuran dalam pelajaran Seni Budaya, maupun menghitung komposisi dan waktu dalam berbagai aktivitas merupakan bentuk numerasi, sehingga Si Jago Nalar dirancang dengan strategi integrasi numerasi di setiap mata pelajaran,” imbuh Agus.

Program Si Jago Nalar dilaksanakan dengan berbagai strategi kreatif seperti integrasi kegiatan numerasi dalam pembelajaran lintas mata pelajaran, Serasi (Selasa Literasi dan Numerasi), pojok numerasi, mural numerasi, taman numerasi, bincang numerasi, dan game numerasi.
“Melalui inovasi ini, murid diajak untuk mengoptimalkan numerasi secara rutin dalam bentuk yang lebih menyenangkan, terprogram, dan dekat dengan kehidupan nyata,” imbuh Agus.
Selain itu, Agus menilai inovasi ini mampu mengaktifkan peran murid dan guru sebagai pembelajar aktif, berpikir berdasarkan alasan, hubungan, dan langkah yang masuk akal ketika menyelesaikan masalah numerasi.
“Harapannya inovasi ini mampu meningkatkan cara berpikir atau strategi penyelesaian ketika menghadapi masalah numerasi dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Agus. (LI/AD)









